CeritaKu

Untukmu.. Adik-adikku, anak-anakku, sahabat-sahabat kecilku.. Mari bermain denganku,kita buat dunia kita menjadi lebih menyenangkan dan penuh arti :)

My Photo
Name:
Location: Jakarta, Indonesia

Tuesday, June 06, 2006

Kisah Tiga Anak Petani

By eptia

Tersebutlah sepasang petani yang memiliki tiga anak kembar, masing-masing bernama Rama, Raya dan Raka. Pak tani dan Bu tani memiliki tanah yang luas yang ditanami padi dan beraneka sayur mayur. Mereka juga beternak unggas. Setiap hari ketiga anak kembar itu membantu Pak Tani dan Bu Tani bekerja. Mereka berharap suatu hari nanti jika sudah besar mereka dapat mengelola tanah pertanian seperti orang tuanya. Pada awal musim tanam, tiba-tiba Pak Tani memanggil ketiga anaknya.

``Karena kalian sudah besar, Ayah akan memberi kalian sepetak sawah untuk dikelola bertiga, Mulai saat ini kalian bersama-sama akan mengelola sawah itu sampai masa panen dan tidak usah membantu pekerjaan kita yang lain`` kata Pak tani kepada ketiga anaknya.

Ketiganya menyambut tanggung jawab itu dengan penuh riang gembira. Pertama-tama ketiganya bersama-sama mencangkul sawah. Mereka pun dengan bersemangat mengerjakannya. Dalam waktu singkat sawah pun siap untuk ditanami.

Tibalah saat untuk membagi tugas. Rama diberi tugas untuk menanami sawah dengan bibit padi, sedangkan Raya bertanggung jawab terhadap pengairan dan Raka bertugas menjaga tanaman padi dari segala macam serangga dan gangguan burung-burung.

Keesokan harinya, Rama mulai mengerjakan tugasnya. Ia mulai menanami sawah dengan bibit padi yang sudah disiapkan Bu Tani. Bibit padi harus ditanam dengan jarak yang teratur rapi supaya pada saat tumbuh nanti ada ruang untuk batang-batang padi yang akan berkembang. Ternyata, pekerjaan yang terlihat mudah itu cukup merepotkan juga.

Pada saat yang sama Raya pun mulai bekerja. Ia mengatur aliran air dari selokan melewati sawah-sawah hingga sampai ke sawah milik mereka. Karena sawah yang terbentang di situ jumlahnya berpetak-petak, maka Raya harus mengatur pintu air agar bisa mengalir merata. Pada awalnya tugas ini terlihat mudah, tapi membuat Raya kerepotan juga karena dia harus sering-sering melihat aliran air.

Sedangkan Raka masih belum memulai pekerjaannya. Karena bibit padi belum juga tumbuh, ia masih bersantai melihat saudaranya bekerja.

Sampai hari ketiga, Rama dan Raya masih berkutat dengan pekerjaan mereka sementara Raka masih menunggu tugasnya dimulai. Menginjak hari keempat, Rama mulai lelah. Ia mulai bertanya-tanya, mengapa tugasnya demikian berat setiap hari sementara ia melihat Raya tugasnya lebih ringan, ia hanya terlihat sekali-sekali saja mengecek pintu air. Apalagi Raka, setiap hari hanya bersantai.

Raya pun mulai berpikir, pekerjaannya membosankan, hanya mengamati aliran air setiap hari. Sedangkan Raka merasa bahwa pekerjaannya kurang menantang, padahal dia merasa bisa diberi tanggung jawab lebih.

Pada hari kelima, Raya memutuskan untuk tidak terlalu memperhatikan aliran air. Karena menurutnya, tidak ada masalah dengan aliran air. Rama juga merasa lelah mengatur baris-baris padi dengan rapi, jadi dia mulai menanam padi dengan tidak terlalu memikirkan jarak antar tanaman.

Keesokan harinya, mereka bertiga berangkat ke sawah dan betapa terkejutnya karena sawah mereka dipenuhi dengan air sehingga bibit-bibit padi pun terendam.

Raya pun mengakui kesalahannya dan mulai mengatur pintu air kembali.

``Maafkan aku, hampir saja bibit padi itu rusak karena terendam air`` kata Raya penuh penyesalan. Ia pun menyadari bahwa ternyata apa yang dianggapnya sepele mempunyai dampak besar.

Akhirnya, bibit padi pun selesai ditanam. Mereka mengamati padi-padi itu tumbuh setiap hari. Burung-burung pun mulai mengganggu. Raka membuat orang-orangan untuk menakut-nakuti burung-burung. Setiap ada gerombolon burung mendekat ia menarik tali yang digantungi kaleng-kaleng. Gemerincing suaranya membuat burung-burung beterbangan menjauh. Pada awalnya, Raka menyukai pekerjaannya. Tapi lama-lama ia merasa bosan. Apalagi kalau kantuk sudah datang menyerang. Raka pun tertidur dengan pulasnya.

Sampai pada suatu siang, burung-burung asik mematuki butir-butir padi yang mulai menguning.

Monday, June 05, 2006

Syala, Si Putri Bermata Biru

Gentong Madu (bag.1)

Di sebuah negeri kecil yang tersembul di balik bukit, hiduplah seorang ibu pembuat roti dengan putrinya yang cantik bernama Syala. Mereka menempati sebuah rumah kecil yang dikelilingi kebun sayur mayur dan bunga-bunga liar.

Setiap pagi tercium bau harum dari cerobong asap rumah jamur tempat Syala dan ibunya tinggal. Semua penduduk desa menyukai roti buatan mereka. Bahkan setiap pagi Syala harus berkeliling mengantar roti gandum untuk sarapan ke rumah-rumah penduduk yang sudah memesan sebelumnya.

Desa Kenari tempat tinggal Syala sangat menyenangkan. Tanahnya subur dan air pun mengalir jernih melalui sungai yang membelah desa. Penduduknya ramah-ramah dan saling mengenal satu sama lain. Semua orang menyayangi Syala yang bermata biru seperti telaga.

Pada suatu hari, Syala terbangun dari tidurnya. Ia heran karena matahari sudah terang benderang menghangatkan kamar tidurnya. Kemudian ia segera bergegas ke dapur untuk mencari ibu. Tapi rupanya ibu tidak ada di dapur.

Syala menemukan ibunya sedang memetik sayuran di belakang rumah.
``Ibu, kenapa tidak membangunkan aku?``
Ibu tersenyum sambil berjalan mendekat,`` Tidak sayang, kamu harus mulai belajar bangun sendiri. Apakah matahari membangunkanmu, nak?``
``Iya, tapi bukankah pagi-pagi aku harus mengantar roti? Apakah ibu sudah mengantar roti-roti semua? Di dapur aku tidak melihat roti satu pun,`` Syala bertanya dengan heran.
``Tidak, nak. Hari ini kita tidak membuat roti,`` kata ibu dengan wajah sedih.
``Kenapa Ibu? Apakah Ibu sakit?``
``Tidak sayang, hanya saja ibu kehabisan madu untuk membuat roti.``
``Mengapa kita tidak membeli madu saja?``
Ibu tersenyum, ia tampak cantik walaupun sudah tua. ``Sekarang ini, entah kenapa sulit sekali mendapatkan madu. Paman Albret tidak mengerti mengapa lebah-lebah tidak lagi menghasilkan madu.``
``oohh.. Bagaimana kalau kita mencarinya ke hutan?``
``Tidak sayang, sekarang ini sebaiknya tidak usah pergi ke hutan.``
``Kenapa ibu? Bukankah kita sering mencari buah berry ke hutan?``
Tiba-tiba saja ibu menarik Syala ke dalam rumah. Ia cepat-cepat mengunci pintu. Pada saat itu, sayup-sayup di kejauhan Syala seperti mendengar derap kaki kuda menderu-deru di tanah. Dadanya mendadak berdebar-debar.
``Syala, kamu harus berjanji pada ibu tidak akan pergi ke hutan atau bermain jauh-jauh tanpa ibu. Mengerti nak?``
Syala mengangguk. Tapi dia sangat heran karena tidak pernah melihat ibunya menjadi aneh seperti itu.